Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2026

titik nadir

Titik terendah dalam hubungan ini adalah ketika aku menyadari sepenuhnya bahwa aku sangat mencintai dan menyayanginya, tetapi aku juga tahu inilah titik nadir hubungan kami. Bukan karena kami bertengkar atau semakin renggang. Bukan pula karena harapanku perlahan habis. Justru karena sejak lama aku tahu, harapan itu memang tidak pernah benar-benar ada. Aku sadar bahwa hubungan ini kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi hubungan yang selama ini diimpikan banyak orang: bukan pacaran, bukan komitmen, apalagi pernikahan. Mungkin cintaku kepadanya memang sesederhana ingin saling melengkapi, saling menemani, dan menjadi tempat pulang satu sama lain. Namun, aku juga tahu bahwa arah hubungan ini tidak pernah menuju ke sana. Kesadaran itu datang bukan karena kecewa sesaat, melainkan karena aku benar-benar melihat kenyataan. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa mengakuinya tanpa lagi menyangkalnya.  

Search Description

Mumpung aku masih inget, aku mau bilang makasih ya. Makasih karena setiap aku cerita, kamu selalu mau dengerin. Padahal kadang aku sendiri bingung harus mulai dari mana atau ngomongnya gimana, tapi kamu tetap sabar dengerin sampai selesai. Aku juga seneng karena kamu ga p ernah bikin apa yang aku rasain jadi keliatan sepele. Waktu aku cerita soal ke psikiater atau minum obat, kamu juga ga pernah nge-judge atau bilang aku lebay. Malah bikin aku ngerasa aman buat cerita dan ga ngerasa sendiri 😢.  Terus waktu aku cerita soal kerjaan atau kesalahan yang aku buat, kamu juga ga langsung nyalahin aku. Kamu lebih kayak berusaha ngerti dulu sebelum ngasih tanggapan. Menurutku itu jarang sih. Pokoknya makasih ya. Mungkin buat kamu biasa aja, tapi buat aku rasanya enak banget punya orang yang bisa dengerin tanpa bikin aku ngerasa dihakimi. 16 Juli 2026

penutupan, yang belum benar-benar di buka

Tiga bulan, ternyata waktu yang tidak cukup untuk sebuah perkenalan. Entah kenapa rasanya seperti  baru memulai sebuah langkah, tetapi perjalanan itu sudah berakhir sebelum kedua kakiku sempat berpijak. Seperti itulah rasa menggantungnya. Belum ada banyak hal yang dilalui, belum ada emosi, belum ada sedih, tapi sudah dihadapkan dengan perpisahan. Benar-benar hanya sebuah perkenalan lewat beberapa kali pertemuan; tidak dalam, dan rasanya terlalu lambat. Malam ini aku belum ingin memejamkan mata. Masih ingin berpikir. Mungkin seharusnya tidak apa-apa berakhir sebelum memberi luka yang hebat, karena jika harus mengulang luka yang sama,   membayangkannya saja terasa begitu melelahkan, sebab  aku sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Mungkin sebelum membuat banyak harapan dan menaruh ekspektasi lebih tinggi lagi, memang ada baiknya berhenti. Sebenarnya tubuh ini masih sangat ingin mengenal, masih sangat ingin merasakan bagaimana rasanya saling mengisi hari-hari, dan terse...