Skip to main content
Titik terendah dalam hubungan ini adalah ketika aku menyadari sepenuhnya bahwa aku sangat mencintai dan menyayanginya, tetapi aku juga tahu inilah titik nadir hubungan kami.
Bukan karena kami bertengkar atau semakin renggang. Bukan pula karena harapanku perlahan habis. Justru karena sejak lama aku tahu, harapan itu memang tidak pernah benar-benar ada.
Aku sadar bahwa hubungan ini kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi hubungan yang selama ini diimpikan banyak orang: bukan pacaran, bukan komitmen, apalagi pernikahan.
Mungkin cintaku kepadanya memang sesederhana ingin saling melengkapi, saling menemani, dan menjadi tempat pulang satu sama lain. Namun, aku juga tahu bahwa arah hubungan ini tidak pernah menuju ke sana.
Kesadaran itu datang bukan karena kecewa sesaat, melainkan karena aku benar-benar melihat kenyataan. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa mengakuinya tanpa lagi menyangkalnya.

