Skip to main content

Ketika Delapan Masih Menjadi Angka Favorit

Aku pernah mencintai seseorang yang hampir sempurna caranya hadir.
Dia bisa diandalkan, bisa menenangkan, bisa membuatku merasa tidak sendirian di dunia yang menyesakkan.
 
Sayangnya, cinta kami kalah jarak.
Dan mungkin… juga kalah oleh tabiatnya sendiri.
 
Dia bukan lelaki sepenuhnya baik.
Tangannya masih sempat menggenggam yang lain ketika tanganku masih ada di sana.
Ia pandai menciptakan rasa aman, tapi juga pandai menyisakan luka.
Poin baik dan buruknya seimbang, tapi entah kenapa, sampai hari ini, yang paling kuingat tetaplah kebaikannya.
 
Lima tahun bukan waktu yang sebentar.
Lima tahun adalah rumah yang dibangun pelan-pelan, lalu runtuh dengan aba-aba yang selalu ku abaikan.
 
Di tahun 2016, dia memilih pergi.
Katanya, dia tak akan kembali ke kota pertama kami bertemu.
Seolah jarak adalah alasan paling masuk akal untuk mengakhiri segalanya.
 
Tapi kemudian aku tahu,
bukan jarak yang memisahkan kami.
Ada perempuan lain yang sudah lebih dulu ia pilih,
bahkan ketika foto-foto kami masih terpajang di Instagramnya.
 
Yang lebih menyakitkan?
Perempuan itu adalah perempuan yang selama ini kutakuti.
 
Aku sering bertanya dalam hati:
bagaimana mungkin seseorang mau masuk ke cerita yang jelas-jelas belum selesai?Bagaimana mungkin aku yang mencintai sepenuh ini, bisa begitu mudah tergantikan?
 
Aku hancur, menangis, tapi jauh lebih kuat.
 
Aku belajar membuka hati lagi,
dan justru saat aku hampir sembuh,
dia kembali.
 
Dia meminta bertemu.
Dan, yang pikirku sudah kuat, ternyata masih lemah oleh kenangan.
Aku memilihnya lagi.
Aku menyakiti seseorang yang tulus menemaniku melewati hari-hari yang rasanya berat
demi lelaki lama yang belum tentu berubah.
 
Dan benar saja.
Beberapa pertemuan kemudian, dia menatapku dan berkata pelan,
“Kayaknya aku emang nggak bisa berubah.”
tidak ada sepatah katapun menjawab pernyataannya, benar-benar diam dan hening.
 
Aneh ya.
Kalimat itu tidak menghancurkanku.
Justru di situlah aku benar-benar selesai.
 
Bukan karena dia pergi.
Tapi karena akhirnya aku tahu, bukan aku yang kurang.
Dia memang belum selesai dengan dirinya sendiri.
 
Kami sempat kembali menjalani jarak beberapa bulan.
Lalu perpisahan terakhir itu datang dengan cara yang… hampir lucu.
 
Dia bertanya "kamu lagi apa?"
Aku balas singkat "lagi mencari baju seragam."
Dia bertanya, "Kamu mau nikah?"
Mungkin ia mengira itu seragam pernikahan.
 
Dan aku menjawab, “Iya.”
 
Padahal itu hanya seragam acara perpisahan sekolah. (waktu itu aku kerja di dunia pendidikan)
Tapi mungkin… memang perpisahan selalu menemukan cara selesai yang sesungguhnya.
 
Setelah itu, kami benar-benar hilang dari hidup satu sama lain.
 
Tahun-tahun berlalu.
Ia sempat kembali, meminta maaf. Dua kali.
Katanya ia merasa mendapat karma di hubungan barunya.
Ia masih mencari tahu kabarku dari teman-temanku.
Masih diam-diam melihat dari jauh.
 
Tapi rasaku sudah berbeda.
 
Tidak ada lagi marah.
Tidak ada lagi dendam.
Tidak juga keinginan untuk kembali.
 
Untuk semua kisah yang pernah ada,
aku menyimpannya sebagai bagian paling manis sekaligus paling pahit dari hidupku.
 
Dia adalah cinta yang mengajarkanku bertahan.
Dan juga mengajarkanku melepaskan.
 
Itu bukan akhir yang tragis.
Itu akhir yang dewasa.
 
Bittersweet.
Tanpa banyak air mata.
Tanpa kebencian.
 
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai,
lalu memilih jalan yang berbeda,
dan akhirnya benar-benar selesai.
 
 
23 Februari 2026
x