Skip to main content

satuapril 2026

     Hari itu rasanya menjadi salah satu hari yang cukup membingungkan secara emosional.

Paginya dimulai seperti biasa: berangkat ke kantor, bekerja, lalu di tengah jam kerja ada jadwal bertemu dokter. Setelah itu, aktivitas kembali berjalan normal.

    Yang paling membuatku bersemangat adalah kelas baking di malam hari. Aku benar-benar tidak sabar karena sudah mendaftar sejak seminggu sebelumnya.
Di sela-sela kesibukan, sempat terlintas pikiran: kue ini nanti akan kuberikan kepada siapa, ya? Ada beberapa nama yang muncul di kepala.

    Namun, di tengah sesi baking, aku mengecek ponsel untuk melihat notifikasi dan menemukan sebuah pesan yang langsung menjatuhkan suasana hati. Selama beberapa menit aku hanya terdiam, mencoba mencerna semuanya sambil tetap berada di tengah aktivitas. Aku bahkan menyebutkan sepuluh benda yang bisa kulihat di sekitarku satu per satu, hanya agar bisa kembali tenang.

    Pada akhirnya, setelah kelas selesai, aku mengemas kue itu dan memutuskan untuk membawanya pulang untuk kumakan sendiri. Itulah pilihan yang akhirnya kuambil.

    Dalam perjalanan pulang, aku melihat langit yang dipenuhi bintang. Pemandangan yang selalu berhasil membuat mataku berbinar. Aku memang menyukai langit—langit yang penuh bintang, langit yang berwarna biru, langit yang hadir saat senja maupun menjelang fajar.

Dan di antara semua hal yang terjadi hari itu, ada satu hal sederhana yang sempat terlintas di benakku: mengirim pesan kepada seseorang.
“Malam ini bintangnya kelihatan jelas.” ⭐🌟✨💫


Kadang semesta tidak datang membawa jawaban; 
ia hanya menyalakan bintang-bintang agar kita tahu bahwa gelap pun punya caranya sendiri untuk menemani.